-Gulirkan kebawah untuk melanjutkan-

Presiden Iran Mengatakan akan Membalas Pembunuhan Pengawal

Presiden Iran Ebrahim Raisi, berfoto saat menyampaikan pidato Tahun Baru Iran pada 20 Maret 2020 [AFP/-]
Presiden Iran Ebrahim Raisi, berfoto saat menyampaikan pidato Tahun Baru Iran pada 20 Maret 2020 [AFP/-]

DOXTIMES.COM Iran akan membalas pemunuhan seorang kolonel Pengawal Revolusi yang terbunuh akibat tertembak di Teheran kata Presiden Ebrahim Raisi pada hari Senin (23 Mei).

Diketahui Kolonel Sayyad Khodai tewas pada hari Minggu di luar rumahnya oleh penyerang dengan sepeda motor. Iran menuduh “elemen yang terkait dengan arogansi global”, istilah untuk Amerika Serikat dan sekutu termasuk Israel.

Pembunuhan tersebut akan menjadi pembunuhan paling diingat oleh Iran sejak pembunuhan November 2020 terhadap ilmuwan nuklir terkemuka Mohsen Fakhrizadeh.

“Saya bersikeras pada pengejaran serius (para pembunuh) oleh pejabat keamanan, dan saya tidak ragu bawha darah martr besar ini akan dibalaskan,” kata Raisi.

“Tidak ada keraguan bahwa tangan arogansi global dapat terlihat dalam kejahatan ini,” tambahnya.

Raisi berbicara sebelum mengunjungi Oman, di mana dia akan bertemu dengan Sultan Haitman.

Pemakaman Kolonel Khodai dijadwalkan akan berlangsung di Teheran pada pukul 17.00 waktu setempat.

Korps Pengawal Revolusi Israel, lengan ideologis militer Iran menggambarkan bahwa Khodai sebagai “pembela tempat perlindungan,” sebuah istilah yang digunakan untuk mereka yang bekerja atas nama republik Islam di Suriah atau Irak/

Iran mempertahankan pengaruh politik yang signifikan di kedua negara, terutama setelah mendukung Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara di Suriah.

Televisi pemerintah menyiarkan bahwa Khodai dikenal di Suriah, di mana Iran telah mengakui mengerahkan “penasihat militer”.

Dikutip dari kantor berita IRNA, bahwa Khodai terbunuh oleh setidaknya lima peluru ketika dia kembali ke rumah sekitar pukul 4 sore pada hari Minggu.

Gambar gambar yang diterbitkan menunjukkan seorang pria di kursi pengemudi mobil putih, dengan darah berceceran di kerah kemeja berwarna biru dan di lengan kanan. Dia masih terikat dengan sabuk pengaman, dan jendela depan di sisi penumpang pecah.

Pembunuhan Khodai terjadi saat negosiasi antara Iran dan kekuatan dunia untuk memulihkan kesepakatan nuklir 2015 yang sempat terhenti sejak Maret.

Salah satu poin utama adalah permintaan Teheran untuk menghapus Garda dari datar terorisme AS, permintaan yang telah ditolak Washington.

Perjanjian 2015 memberikan keringanan sanksi Iran dengan pembatasan program uklirnya, untuk mecegah Teheran mengembangkan bom atom.

Tetapi perjanjian itu dibiarka saja setelah presiden AS saat itu Donald Trump menarik diri darinya secara sephak pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekomoni yang menggigit terhadap Teheran.

Ikuti Twitter dan Instagram kami.

Bergabunglah dengan kami di Grup Telegram "Dox Times", dengan klik link berikut: https://t.me/doxtimes, lalu tekan join. Anda harus install aplikasi Telegram di ponsel terlebih dahulu, untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru dan breaking news setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *